SEMOGA SEMUA MAKHLUK HIDUP BERBAHAGIA..SADHU...SADHU...SADHU...

Thursday, June 3, 2010

ANTARA LIDAH DAN SENDOK

Oleh Bhikkhu Uttamo

Bagaikan lidah yang dapat merasakan setiap rasa sayur yang melewatinya, demikian pula orang bijaksana dapat mengerti Dhamma walaupun baru sejenak mengenalnya (Dhammapada Bala Vagga 65).


Di dalam Dhammapada dikatakan ada dua jenis perkenalan dengan Dhamma. Yang pertama adalah perkenalan biasa-biasa, selanjutnya tetap biasa-biasa saja. Diibaratkan seperti sendok. Sendok tidak pernah kepedasan. Tidak pernah begitu menyentuh lombok langsung berteriak kepedasan. Kenapa? Karena sendok tidak punya rasa. Menyendok sambal bisa, kuah juga mau. Apa saja boleh diambil dengan sendok. Menyendok yang baik dan menyendok yang jelek bisa pula. Sendok tidak bereaksi, karena dia tidak pernah merasakan rasa apapun yang menempel di tubuhnya.

Begitu juga dengan umat yang termasuk jenis ini. Datang ke vihara, ikut puja-bhakti, baca paritta, dan meditasi. Termasuk ngantuk dan melamunnya... Satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, satu bulan, dua bulan, setahun, dua tahun sampai sepuluh tahun mengenal Dhamma tetapi masih tetap biasa-biasa.

Ketika ditanya, setelah mengenal Dhamma selama sepuluh tahun apakah masih emosi? Jawabnya, masih. Apakah setelah mengenal dhamma sudah bisa meditasi? Belum. Beginilah jenis yang pertama, selalu mengantarkan sayur ke dalam mulut, tapi tiada pernah merasakan.

Namun ada jenis perkenalan dengan Dhamma yang mulanya biasa-biasa, selanjutnya makin menggebu-gebu. Ibaratnya lidah. Lidah itu luar biasa. Seandainya satu butir nasi dimasukkan ke dalam hamburger yang kita makan, pasti kita akan dapat merasakan nasi itu. Karena lidah kita sudah terbiasa dengan rasanya, meskipun cuma satu butir. Itulah kehebatan lidah. Luar biasa.

Demikian pula dalam mengenal Dhamma. Menjadi umat Buddha bukan dilihat sudah berapa lama sudah jadi umat Buddha. Itu bukan jaminan. Tetapi, yang penting adalah sudah seberapa jauh kita merasakan nikmatnya Dhamma.

Sabbam rasam dhammaraso jinati. Dari seluruh rasa, rasa Dhammalah yang paling unggul (Dhammapada Tanha Vagga 354)
Selengkapnya...

Tuesday, October 13, 2009

Sudahlah, Maafkan Saja!

Bayangkan Anda sedang menghadiri pesta yang amat meriah. Semua orang tampil dengan pakaian terbaik. Makanan yang dihidangkanpun tampak lezat dan mengundang selera. Saat Anda antre untuk mengambil makanan, tiba-tiba seseorang yang sangat Anda percaya berbisik di telinga Anda, ”Hati-hati, banyak makanan tak halal disini, bahkan ada beberapa yang beracun!”



Saya berani menjamin Anda akan mengurungkan niat mengambil makanan. Boleh jadi Anda pun langsung pulang ke rumah. Anda benar, hanya orang bodohlah yang mau menyantap makanan tersebut. Kita tak mau makan sembarangan. Kita sangat peduli pada kesehatan kita.

Anehnya, kita sering — bahkan dengan sengaja — memasukkan ”makanan-makanan beracun” ke dalam pikiran kita. Kita tak sadar bahwa inilah sumber penderitaan kita. Salah satu makanan yang paling berbahaya tersebut bernama: ketidakmauan kita untuk memaafkan orang lain!

Ketidakmauan memaafkan adalah penyakit berbahaya yang menggerogoti kebahagiaan kita. Kita sering menyimpan amarah. Kita marah karena dunia berjalan tak sesuai dengan kemauan kita. Kita marah karena pasangan, anak, orang tua, atasan, bawahan, dan rekan kerja, tak melakukan apa yang kita inginkan. Lebih parah lagi, kita memendam kemarahan ini berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.

Memang banyak sekali kejadian yang memancing emosi kita. Pengendara motor yang memaki kita, mobil yang menyalib dan hampir membuat kita celaka, orang yang membobol ATM kita, politisi yang hanya memperjuangkan perutnya sendiri, adik yang sering minta bantuan tapi tak pernah mengucapkan terima kasih, pembantu yang membohongi kita, maupun bos yang pelitnya luar biasa. Kita mungkin berpikir bahwa orang-orang tak tahu diri ini sudah sepantasnya kita benci. Tapi kita lupa bahwa kebencian yang kita simpan hanyalah merugikan kita sendiri.

Sudah menjadi tabiat manusia, tatkala hatinya disakiti, dia akan merasa sakit hati dan boleh jadi berujung dengan kedendaman. Walaupun demikian, bukan berarti kita harus dendam setiap kali ada yang menyakiti. Malah sebaliknya, jika kita dizalimi, maka doakanlah orang-orang yang menzalimi itu agar bertaubat dan menjadi orang saleh. Mampukah kita melakukannya?

Orang-orang bijaksana adalah sosok yang hatinya bersih dari sifat dendam. Walau ia dihina, dicacimaki, difitnah, bahkan hendak dibunuh, tak sedikit pun ia mendendam. Bahkan, ia mati-matian berbuat baik kepada orang-orang tersebut dan begitu ringannya ia memaafkan.

Penelitian menunjukkan ketidakrelaan memaafkan orang lain memiliki dampak hebat terhadap tubuh kita: menciptakan ketegangan, mempengaruhi sirkulasi darah dan sistem kekebalan, meningkatkan tekanan jantung, otak dan setiap organ dalam tubuh kita. Kemarahan yang terpendam mengakibatkan berbagai penyakit seperti pusing, sakit punggung, leher, dan perut, depresi, kurang energi, cemas, tak bisa tidur, ketakutan, dan tak bahagia.

Baru-baru ini saya sempat berinteraksi dengan sekelompok mahasiswa yang mengeluhkan perasaan tertekan dan tak bahagia. Ternyata, kebanyakan dari mereka memendam berbagai kemarahan, baik kepada orang tua maupun orang-orang di sekitar mereka. Salah seorang mengaku telah 10 tahun memendam kebencian kepada wanita yang menjadi istri kedua ayahnya. Si ayah yang dijuluki orang paling sholeh di kantornya tanpa diduga mempunyai ‘’simpanan.” Wanita ini kemudian dinikahinya, dan akhirnya meninggal karena stroke lima tahun lalu. Tapi, kemarahan dan kebencian si anak hingga kini belum juga mereda.

Musuh kita sebenarnya bukanlah orang yang membenci kita tetapi orang yang kita benci. Ada cerita mengenai seorang lelaki bekas tapol di zaman Orde Baru yang mengunjungi kawannya sesama eks tapol. Sambil mengobrol si kawan bertanya, ”Apakah kamu sudah melupakan rezim Orde Baru?” Jawabnya, ”Ya, sudah.” Si kawan kemudian berkata, ”Saya belum. Saya masih sangat membenci mereka.” Lelaki itu tertawa kecil dan berkata, ”Kalau begitu, mereka masih memenjara dirimu.”

Kita harus terus berlatih untuk mengikis sifat dendam tersebut. Sebagai ilustrasi, kita bisa belajar dari para karateka yang berhasil menghancurkan batubata dengan tangannya. Pertama kali memukulnya, bata tersebut tidak langsung hancur. Tapi, dia tak patah semangat. Diulanginya terus usaha untuk menghancurkan bata tersebut. Akhirnya, pada pukulan kesekian, pada hari kesekian, bata tersebut berhasil dihancurkan. Memang, tangannya bengkak-bengkak, tetapi dia mendapatkan hasil yang diinginkan.

Begitu pula dengan hati. Jika hati dibiarkan sensitif, maka hati ini akan mudah sekali terluka. Akan tetapi, jika hati sering dilatih, maka hati kita akan semakin siap menghadapi pukulan dari berbagai arah. Jika kita telah disakiti seseorang, kita jangan melihat orang tersebut, tetapi lihatlah dia sebagai sarana ujian dan ladang amal kita terhadap Yang Maha Kuasa. Kita akan semakin sakit, tatkala melihat dan mengingat orangnya.

Untuk mencapai kebahagiaan, kita perlu mengubah cara pandang kita. Sumber kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri, bukan di luar. Karena itu jangan terlalu memusingkan perilaku orang lain. Sebaliknya, belajarlah memaafkan. Kunci memaafkan adalah memahami ketidaktahuan. Banyak orang yang melakukan kesalahan karena ketidaktahuan. Kalaupun mereka sengaja melakukannya, itupun karena mereka sebenarnya tak tahu. Mereka tak tahu bahwa kejahatan bukanlah untuk orang lain tetapi untuk mereka sendiri.

Orang yang suka memaki dan bersikap kasar sebenarnya tak menyadari bahwa mereka sedang menzalimi dirinya sendiri. Suatu ketika ia akan kena batunya. Inilah konsekuensi logis dari hukum alam.

Mempraktikkan konsep memaafkan akan membuat hidup lebih ringan. Saya ingat, saat sedang duduk menunggu anak saya sekolah pada minggu lalu, seorang ibu yang lewat menubrukkan tasnya yang cukup berat ke kepala saya, tanpa permisi apalagi minta maaf. Orang-orang yang melihat kejadian itu menggeleng-gelengkan kepala sambil mencela kecerobohannya. Saya mencoba mempraktikkan konsep ini, dan langsung memaafkannya. Ibu itu kelihatannya sedang kalut. Tak mungkin ia sengaja menabrak saya begitu saja.

Jika kita menjadi lebih baik, Tuhan tentu akan memuliakan kita. Jika Tuhan sudah memuliakan, maka kita tidak akan menjadi hina karena hinaan orang lain. Untuk mencapai kebahagiaan, berikanlah maaf kepada orang lain. Hentikan kebiasaan menyalahkan orang lain. Ingatlah, kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidaksempurnaannya. Hanya Allah-lah yang Maha Suci dan Maha Sempurna. Saya menyukai apa yang dikemukakan Gerarld G Jampolsky dalam bukunya Forgiveness, The Greatest Healer of All. ”Rela memaafkan adalah jalan terpendek menuju Tuhan.” Itulah kunci kemuliaan diri.

By Bikkhu Khemanando
Selengkapnya...

Monday, August 24, 2009

ARTIKEL-ARTIKEL BUDDHIS

1. NASIB DITANGAN SIAPA

2. ARTIKEL BUDDHIS BHIKKHU KHEMANANDO
3. AKU RELA MENJADI TONGKAT IBUKU
SEPANJANG HIDUPKU

4. ANTARA LIDAH DAN SENDOK


NASIB DITANGAN SIAPA

Orang dungu menanti hari baik tapi nasib baik selalu jauh darinya,
nasib baik adalah bintang terang itu sendiri,
apa yang bisa dicapai hanya oleh bintang terang.
(Jataka)

Suatu hari ada sekelompok pemuda yang iseng ke tukang ramal, saat sampai ke tempat tukang ramal tadi, masing-masing diramal oleh tukang ramal dan tentunya ada yang baik dan yang buruk. Mereka yang diramal baik tentunya akan bahagia, sedangkan yang diramal buruk akan mengalami kesedihan. Salah satu dari sekelompok anak muda itu diramal, bahwa hidupnya saat ini akan kaya raya tetapi kehidupannya singkat. Anak ini menjadi kalut, di satu sisi ada kebahagiaan dan disisi lain muncul kesedihan.



Kejadian seperti di atas bukan hanya dialami sekelompok anak muda dalam cerita di atas, tetapi masih banyak lagi orang yang pergi ke tukang ramal untuk mengetahui garis kehidupannya dan terkadang mereka mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk mengetahui garis hidupnya. Banyak orang yang cemas menghadapi nasib kehidupannya sehingga mereka pergi ke tempat-tempat yang menjanjikan ramalan jitu.



Percaya pada nasib, baik atau buruk, sangat umum di kalangan masyarakat. Ini bisa terjadi akibat kurangnya pengertian terhadap hukum kamma, kondisi duniawi dan hakikat yang oleh orang lantas dianggap sebagai nasib baik atau nasib buruk.



Sang Buddha mengajarkan kepada kita bahwa hasil yang baik datang dari sebab yang baik, dan hasil yang buruk datang dari sebab yang buruk, sesuai dengan hukum kamma. Ketika orang menghadapi hasil yang buruk akibat perbuatan jahatnya di masa lalu atau sekarang, ia semestinya tak mengkambinghitamkan nasib buruk. Sebaliknya, lebih tepat baginya untuk mengatakan bahwa ia sedang mengalami akibat dari kamma buruknya. Dengan pengertian seperti ini, pengertian tentang nasib akan bergeser ke pengertian yang sebenarnya. Dengan cara ini pula, ia akan memahami bahwa ia yang bertanggung jawab atas segala kebahagiaan dan ketidakbahagiaannya sendiri, berdasarkan seberapa baik dan seberapa buruk dalam bersikap dalam kehidupan ini. Tidak ada yang disebut nasib, pilihan ada ditangan kita sendiri.



Manusia mestinya tidak menyerah dan berhenti berusaha mengalahkan ketidakberuntungan yang menyatakan bahwa ia tidak memiliki ‘Hoki’. Ia juga mesti tidak membiarkan dirinya menjadi korban kepercayaan seperti itu yang akan menghalangi kemajuan material dan spiritual.



Menurut ajaran sang Buddha, usaha adalah kondisi yang paling penting untuk memperbaiki kamma buruk seseorang. Dengan usaha yang dilakukan pada hari ini, orang bisa membuat kamma yang sangat segar, dan mengubah keadaan serta lingkungannya. Selalu ada kemungkinan seseorang untuk mengubah kammanya sendiri. Jika kegagalan disebabkan ketidakefisienan, kurang pengalaman, atau kemalasan, ia harus berusaha memajukan dirinya sendiri dengan mengatasi kegagalannya tanpa menyalahkan bintang-bintang, setan atau roh-roh. Dengan pengertian terhadap hakikat diri serta penerimaan terhadap kelemahan diri sendiri adalah langkah pertama untuk memperbaiki diri sendiri.



Apa yang disebut dengan nasib yang tak terelakan atau takdir yang tak dapat diperbaiki itu tidak ada dalam ajaran sang Buddha. Jika kita mengamati pengalaman diri kita sendiri dan orang lain, kita akan menyadari bahwa ketidakbahagiaan dan penderitaan pada hari ini adalah hasil dari kesalahan yang telah dilakukan kemarin.



Manusia bukanlah sekedar seperti pion di papan catur, kekuatan universal yang tak mampu dikendalikannya. Nasibnya adalah ciptaannya sendiri, apakah baik atau buruk. Manusia menciptakan nasibnya sendiri dengan pikiran, kata-kata, dan perbuatannya sendiri. Tidak ada kesempatan untuk sembunyi dari konsekuensi perbuatannya. Karenanya, manusia adalah pembentuk kehidupannya sendiri, saat ini dan di masa mendatang.



Hukum kamma yang mengukir nasib seseorang tidak mengenal restribusi. Tidak motif untuk menghukum dalam hukum agung universal tersebut. Alam itu adil. Ia tidak bisa ditipu, tak juga bisa memberikan kompensasi bagi yang memohon-mohon. Pada waktu keadaan yang sesuai muncul, perbuatan yang akan kita tanam akan berubah. Karenanya, di hadapan malapetaka, tak ada yang bisa dicapai dengan memaki langit.



Pengaruh kamma dalam kehidupan seseorang bukannya tidak bisa diubah. Karenanya konsep penderitaan yang abadi dan kebahagiaan yang kekal adalah asing dalam agama Buddha. Semua jenis kehidupan dalam lingkaran kelahiran dan kematian (samsara) adalah tidak kekal. Hanya setelah kita keluar dari keberadaan yang relatif di dalam samsara dan telah mencapai Nibbana, barulah kebahagiaan abadi kita sadari.



Proses pengembangan kedewasaan spiritual meliputi latihan diri dan disiplin moral, penyucian batin dan menjalankan kehidupan lurus, penuh dengan kasih sayang, harmoni, dan pelayanan tanpa pamrih. Berbagai agama memberikan interpretasi yang berbeda berkenaan dengan bagaimana penyelamatan dari penderitaan dimungkinkan. Dalam agama Buddha, seseorang bisa diselamatkan dengan cara menjalankan hidup yang sesuai dengan hukum moral universal dan dengan mensucikan pikirannya. Ia sebenarnya bisa membentuk nasibnya tanpa harus bergantung kepada kekuatan diluar dirinya.



Sebagai umat manusia, mesti tidak menyia-siakan keberadaan kita sebagai umat manusia dengan menyesali masa lalu, ataupun menghabiskan waktu dalam kegiatan yang sia-sia dan tak bermanfaat. Sikap hidup seperti itu cuma akan membuang kesempatan untuk menyadari tujuan sebenarnya dari hidup ini, dan menghalangi kemajuan kita dalam usaha pembebasan sempurna dari penderitaan.



Tak ada yang disebut nasib, kecuali efek perbutan kita di masa lalu. Perbuatan kita di masa lalu adalah nasib kita….pencapaian kita ditentukan oleh usaha kita. Usaha kita dengan demikian adalah nasib kita. Usaha kita yang dulu dan sekarang, jika berlawanan adalah seperti dua ekor kambing yang berlaga. Yang lebih kuat akan melemparkan yang lebih lemah….Apakah itu usaha kita di masa lalu atau kala ini, adalah yang lebih kuat yang menentukan nasib kita. Dalam kasus manapun, adalah usaha manusia yang menentukan nasibnya sendiri. Hanya kejadian-kejadian dalam dunia ini yang ia ciptakan dengan perbuatannya sendiri dan bukan yang lain…Karenanya seseorang harus mengatasi nasib buruknya sendiri (efek perbuatannya di masa lalu) dengan usaha yang lebih baik di masa sekarang. Tak ada yang tidak bisa dicapai oleh manusia dengan usaha yang tepat. Dengan adanya pengertian yang jelas terhadap kamma maka kasus-kasus seperti cerita sekelompok pemuda itu tidak ada lagi. Memang, untuk menumbuhkan pengertian seperti itu, di tengah-tengah manusia yang masih dipengaruhi oleh panadangan umum di masyarakat sangat sulit. Tetapi bukan berarti tidak bisa, oleh karena harus dimulai dari diri kita sendiri.



Ditulis oleh: Bhikkhu Abhayanando
Selengkapnya...

Wednesday, July 22, 2009

HUBUNGI KAMI

Apabila anda ingin menghubuingi kami
Berikut adalah Nomor-nomor Telepon Pengurus Vihara Tri Dharma Cariya



Ketua Yayasan vihara Tri dharma Cariya : Halim Hermawan ( 021 59330917 )

Ketua Vihara : Pdt.Supanno ( 085710472588 )
( 021 59330671 )

Ketua Dayakhasaba : Tedi Setiadi ( 081584336138 )

Wakil Ketua Dayakhasaba : Deni Naga Iskandar ( 081514619630 )

Sekretaris : Udit Prayitno ( 08176026404 )

Bendahara : Ibu Ery Halim ( 08176920369 )

Sie Sosial : Aray Setiawan ( 087878036529 )

Email : tridharma_cariya@yahoo.com

WebSite : www.viharatridharmacariya.blogspot.com

Selengkapnya...

Wednesday, June 24, 2009

ARTIKEL BUDDHIS
BHIKKHU KHEMANANDO
Berikut ini adalah Artikel-artikel yang dapat anda baca di situs ini, Artikel tersebut disajikan Oleh Bhikkhu Khemanando yang kami ambil dari blog DHAMMAMITTA.
Semoga Artikel-artikel tersebut Dapat menambah wawasan Dhamma kita semua
Sadhu...Sadhu...Sadhu...


KARMA DARI PASANGAN

T: Bagaimanakah seseorang dapat mengetahui kamma dari pasangan?

M: Jika mereka berada dalam kondisi yang harmoni maka mereka memiliki kamma yang baik. Jika pasangan tersebut setiap hari berada dalam kondisi yang menegangkan maka Anda tahu sendiri karma seperti apa itu. Bukankah cukup mudah dipahami? Jika harmoni maka akan bahagia. Jika tidak harmoni maka cobalah menyesuaikannya dan bertoleransi agar terhindar dari berkumpul kembali di kehidupan mendatang sebagai pasangan kamma yang sulit bersepaham.

Tolstoy mempunyai isteri yang sungguh menjengkelkan. Anda tahu kan, Tolstoy pengarang “War and Peace”? Dia mempunyai isteri yang menjengkelkan, jadi diceritakan bahwa setiap hari isterinya selalu mencaci-maki, mengutuk, dan memarahinya, bahkan memukul dan kadang-kadang mengusirnya keluar dari rumah. Suatu hari, salah seorang sahabat karibnya sudah tidak tahan lagi, lalu dia bertanya pada Tolstoy, “Kenapa tidak kamu tendang iblis itu keluar dari rumahmu sehingga kamu akan hidup damai?”

Tolstoy berkata, “Ssstttt….., jangan bicara terlalu keras. Aku telah lakukan itu pada kehidupan sebelumnya. Sehingga, keadaan ini menjadi parah kali ini. Saya tidak berani lakukan itu lagi.”

Semakin Anda berusaha, semakin parah kondisi yang muncul. Jadi, terima saja apapun yang terjadi, kita mencoba untuk menjalaninya, latihlah diri kita dalam kesabaran, bertoleransi, dan mengasihi musuhmu. Bahkan orang sebijak Tolstoy tidak dapat menanggulangi isterinya yang menjengkelkan tersebut, jadi kita sebagai orang awam lebih baik diam saja.

Diam!….ok
By Bhikkhu Khemanando


Be Happy, If You Have a Problem


Membaca judul di atas mungkin kita bertanya-tanya, apakah penyaji tak salah tulis. Kita mungkin berkata, ”Bukankah akan lebih berbahagia kalau kita sama sekali tak punya masalah?” Kalau demikian, kita salah besar! Dimana ada kehidupan, disitu pasti ada permasalahan. Namun, tahukah kita bahwa di balik setiap masalah terkandung suatu peluang emas dan kesempatan yang besar untuk maju?

Ada kata-kata bijak dari Norman V Peale yang patut Anda renungkan. Dalam bukunya You Can If You Think You Can, ia mengatakan, ”Apabila seseorang ingin menghadiahkan sesuatu yang berharga, bagaimanakah Ia memberikannya kepada Anda? Apakah Ia menyampaikan dalam bentuk suatu kiriman yang indah dalam nampan perak? Tidak! Sebaliknya seseorang membungkusnya dalam suatu masalah yang pelik, lalu melihat dari jauh apakah kita sanggup membuka bungkusan yang ruwet itu, dan menemukan isinya yang sangat berharga, bagaikan sebutir mutiara yang mahal harganya yang tersembunyi dalam kulit kerang.”

Pernyataan di atas bukan sekedar kata-kata indah untuk menghibur diri kita yang & sedang kalut menghadapi suatu masalah. Ini adalah perubahan paradigma dan cara berpikir. Keadaan apa pun yang kita hadapi sebenarnya bersifat netral. Kita lah yang memberikan label positif atau negatif terhadapnya. Seperti yang dikatakan filsuf Cina, I Ching, ”Peristiwanya sendiri tidak penting, tapi respon terhadap peristiwa itu adalah segala-galanya.”

Berikut ini contoh sederhana. Sebagai seorang fasilitator yang memberikan pelatihan di berbagai perusahaan, saya pernah menghadapi penolakan dari klien semata-mata karena usia saya yang dianggap terlalu muda. Saya pernah menganggap ini masalah besar. Bagaimana tidak? Ini menyangkut kredibilitas saya. Saya kemudian memikirkannya berhari-hari. Kepercayaan diri saya mulai terganggu. Lama-kelamaan saya sadar bahwa penolakan semacam ini adalah hal biasa. Justru ini adalah kesempatan untuk berkembang. Karena itu, saya segera menggali kebutuhan klien dan mencari pendekatan yang lebih dapat diterima. Saya terus meningkatkan kompetensi, sampai akhirnya saya dapat diterima oleh perusahaan tersebut. Kalau demikian, penolakan awal itu sama sekali bukan sebuah masalah, tapi sebuah peluang yang sangat berharga. Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh. Sayang, lebih banyak orang yang menganggap masalah sebagai sesuatu yang harus dihindari. Mereka tak mampu melihat betapa mahalnya mutiara yang terkandung dalam setiap masalah. Ibarat mendaki gunung, ada orang yang bertipe Quitters. Mereka mundur teratur dan menolak kesempatan yang diberikan oleh gunung.

Ada orang yang bertipe Campers, yang mendaki sampai ketinggian tertentu kemudian mengakhiri pendakiannya dan mencari tempat yang datar dan nyaman untuk berkemah. Mereka hanya mencapai sedikit kesuksesan tapi sudah merasa puas dengan hal itu. Tipe ketiga adalah Climbers yaitu orang yang seumur hidupnya melakukan pendakian, dan tak pernah membiarkan apapun menghalangi pendakiannya. Orang seperti ini senantiasa melihat hidup ini sebagai ujian dan tantangan. Ia dapat mencapai puncak gunung karena memiliki mentalitas yang jauh lebih tinggi, mengalahkan tingginya gunung. Orang dengan tipe ini benar-benar meyakini apa yang pernah dikatakan Dag Hammarskjold, ”Jangan pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum kita mencapai puncaknya. Karena begitu ada dipuncak, kita akan melihat betapa rendahnya gunung itu.”

Semua masalah sebenarnya adalah rahmat terselubung bagi kita. Mereka ”berjasa” karena dapat membuat kita lebih baik, lebih arif, lebih bijaksana, dan lebih sabar. Kita baru dapat disebut manajer yang baik kalau kita mampu memimpin seorang bawahan yang sulit, yang membuat para manajer lain angkat tangan. Kita baru menjadi orang tua yang baik kalau kita dapat menangani anak yang bermasalah, atau pun menantu yang keras kepala, yang melakukan sesuatu melebihi batas kesabaran kita. Kita baru dapat disebut profesional kalau kita mampu menangani pelanggan yang cerewet yang sering mengeluh dan banyak maunya. Untuk mencapai kesuksesan kitaperlu memiliki adversity quotient, yaitu kecerdasan dan daya tahan yang tinggi untuk menghadapi masalah.

Kecerdasan tersebut dimulai dari merubah pola pikir dan paradigma kitasendiri. Mulailah melihat semua masalah yang kita hadapi sebagai peluang, kesempatan, dan rahmat. Kita akan merasa tertantang, namun tetap mampu menjalani hidup yang tenang dan damai. Berbahagialah jika kita memiliki masalah. Itu artinya kita sedang hidup dan berkembang. Justru bila kita tak punya masalah sama sekali, saya sarankan kita segera berdoa dan terus berusaha untuk menerapkan nilai-nilai moral yang kita pelajari, dengan berusaha mempraktekkan sesuatu yang benar demikian kita tak perlu khawatir. Perbuatan baik tak akan pernah memberikan suatu beban yang kita tak sanggup memikulnya.

INTROPEKSI DIRI
Penyaji: Khemanando Bhikkhu

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Tak terasa tahun demi tahun, hari demi hari dan bulan demi bulan terus berganti , semua itu telah kita lewati bersama. Banyak kenangan yang telah kita lakukan bersama, yang mungkin tak dapat kita lupakan. Tahun, Hari dan bulan yang selalu berganti merupakan suatu momen yang telah ditunggu banyak orang, karena hari yang baru bisa merubah suasana yang baru didalam kehidupan kita. Misalnya; tahun baru, hari ulang tahun, bulan kemenangan, yang kadang-kadang kita ingin merayakan dengan meriah, pesta-pesta dengan teman-teman agar dicap sebagai orang modern, atau biar dianggap sebagai orang yang tidak ketinggalan jaman atau kampungan. Bahkan ada yang punya persepsi pada tahun, hari, bulan-bulan tertentu semuanya harus baru, mulai dari pakaian, makanan hingga pacar dan yang lebih parah lagi istri juga tidak mau ketinggalan. Sesungguhnya kita disaat-saat itu perlu merenungkan kegiatan-kegiatan, yang telah kita kerjakan selama ini. Apakah sudah sesuai Dhamma atau belum?

Segala sesuatu akan segera berubah

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa segala sesuatu akan mengalami perubahan atau mengalami ketidakkekalan, demikian pula diri kita juga tidak bisa terlepas dari perubahan. Misalnya; yang sering terjadi, dulunya mungkin kita baik terhadap seseorang, selalu welcome terhadap mereka, tapi pada akhirnya tidak menutup kemungkinan diri kita bisa menjadi benci, tidak suka, jengkel, bahkan ingin mengusir mereka dari dalam dari kehidupan kita. Delapan kondisi dunia memang selalu mempengaruhi dan itu semua tidak bisa kita hindari dari dalam kehidupan kita, suka dan tidak suka, bahagai dan menderita, selalu mempengaruhi kehidupan kita semua. Perubahan demi perubahan ini disebabkan kamma-kamma kita yang pernah kita perbuat, yang telah memulai berbuah, kitalah yang bertanggungjawab atas semua itu. Jangankan kita, kondisi disekitar kita aja bisa berubah setiap saat. Misalnya; lampu, yang dulunya pakai lampu minyak tapi sekarang kita pakai listrik, dan tadinya kita pakai mesin ketik sekarang kita pakai computer bahkan sudah pakai jaringan untuk bisa berkomunkasi melalui internet. Ini merupakan bukti bahwa segala sesuatu mengalami perubahan. Janganlah kita selalu membiarkan diri kita terjebak didalam keegoisan kita sendiri, dan janganlah kita selalu memanjakan diri kita secara berlebihan, yang hanya mengakui kebaikan atas diri kita sendiri tetapi tidak pernah mengakui kesalahan atas diri kita, dan bahkan yang lebih ironis lagi, kita hanya menyalahkan orang lain atas kegagalan atau kesalahan diri kita. Batin dan moral kita juga memerlukan perubahan, perkembangan dan perlu ditumbuhkembangkan setiap saatnya. Badan kita akan hancur tetapi batin kita, sebelum mencapai kebebasan atau merealisasi kebahagiaan, akan melanjutkan proses kealam-alam berikutnya lagi sesuai dengan perbuatan kita sendiri. Selalu berbuat jahat akan mengalami penderitaan, selalu berbuat baik akan merasakan kebahagiaan. Jika kita hanya egois akan badan jasmani ini saja, yang tidak mau disalahkan tapi mau yang benar saja, bagaimana kita akan mendapatkan kebahagiaan didalam kehidupan saat ini dan berikutnya. Semua orang mengharapakan kebahagiaan, termasuk penyaji sendiri, tetapi kebahagiaan yang kita cari pastilah ada perbedaan. Ada yang berbahagia atas penderitaan orang lain, ada pula yang bahagia ketika mereka menyalahkan dan mencari kesalahan orang lain karena mereka menganggap bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah sesuatu yang paling benar dan sesuai dengan ajaran Buddha. Tetapi ternyata Buddha tidak pernah dan tidak akan pernah mengajarkan umatnya untuk mencari kesalahan orang lain atas kegagalan-kegagalan mereka sendiri. Sangat ironis sekali, jika kita hanya selalu mengutamakan sikap yang tidak terpuji tersebut, sekalipun kita setiap saat kita selalu hadir ditempat ibadah atau tempat-tempat yang disucikan, tetapi kita belum bisa mengintropeksi diri kita dengan kesadaran , maka kita akan terus diperbudak oleh kebodohan – kebodohan kita sendiri. Disinilah kadang kita bisa tertipu oleh mata jasmani, yang selalu memandang segala sesuatunya dari sisi negatif saja, bukan dari sudut pandang yang positif. Alangkah baiknya kita merenungkan perbuatan-perbuatan kita sendiri daripada merenungkan perbuatan orang lain, karena perbuatan kita masih banyak kekurangannya tetapi dengan melihat dan memahami kenyataan saat ini kita akan mengaplikasikan perbuatan-perbuatan yang bisa memberikan kontibusi yang baik serta bermanfaat, dan yang bisa membawa kita keperealisasian Dhamma.

Pentingnya disiplin moral

Seorang yang kehilangan nafas (alias meninggal dunia), kehilangan materi adalah sesuatu yang menakutkan, tetapi seorang yang kehilangan moral itu sangat menakutkan sekali, ini adalah Dhamma. Tetapi sangat berbeda dengan kondisi sekarang, karena orang yang kehilangan moral sampai 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun bahkan lebih mereka tidak pernah takut, tetapi seorang yang kehilangan Hp (Mobilephone) 1 menit saja, mereka sudah merasa sangat ketakutan sekali. Mereka menganggap Hp atau materi yang lain adalah sesuatu yang sangat berharga ketimbang moralitas yang hilang. Kita, yang kehilangan moralitas, adalah orang-orang yang telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga sekali didalam hidup kita, sudah barang tentu bagi mereka yang ingin menjadi orang baik. Oleh karena itu, sangatlah penting kita selalu menjaga kedisiplinan moral, agar bisa tetap eksis didalam kehidupan kita. Dengan menjaga moralitas, maka kita akan tetap bisa bergaul dengan semua golongan. Karena adanya kedisiplinan moral yang tinggi, sesuatu yang kita kerjakan dalam seharian, akan sesuai dengan Dhamma, dengan demikian segala sesuatu yang kita lakukan akan penuh perhatian. Berikanlah batin kita makanan yang bermanfaat dan berguna serta bisa menjadi teladan bagi diri sendiri dan orang lain. Dhamma harus kita gali sebanyak-banyak agar kita bisa menjadi orang yang benar , orang yang menjadi teladan bagi masyarakat, yang bisa memberikan kontribusi dengan baik. So, sudah saatnya kita mempraktekkan Dhamma, menjadikan Dhamma sebagai pegangan hidup, sehingga kita akan mendapatkan sesuatu yang berharga didalam kehidupan kita, dan makluk lain juga akan turut berbahagia. Kadang-kadang kita ingin berubah tetapi sering muncul berbagai kendala misalnya; kemalasan, keragu-raguan dan lain sebagainya. Memang dalam realitanya kendala itu merupakan suatu rintangan yang perlu kita sadari dan perlu kita atasi bukan harus lari darinya. Rasa malas adalah salah satu benturan yang sangat kuat didalam keseharian kita. Sebetulnya, menghilangkan rasa malas bukanlah sesuatu yang sangat sulit, dan bukan pula susuatu yang sangat mudah. Semua itu membutuhkan semangat dan tekad kita, dan yang paling penting adalah kesabaran kita. Ketika kita sabar dalam menghadapi segala sesuatu maka kita yakin apa yang menjadi target kita akan tercapai. Asalkan kita mau menyadari dan merenungkan bahwa diri kita adalah manusia biasa. Tetapi apakah kita pernah merenungkan bahwa kita adalah manusia? Jawabannya hanya ada didalam diri kita masing-masing. Disinilah pentingnya kita menerapkan suatu motivasi yang sangat luar biasa, yang bisa mendorong agar diri kita bisa menerapkan apa yang seharusnya diterapkan. Sebetulnya semua orang mempunyai motivasi, hanya saja kita sendiri yang tidak mau tahu, dan bahkan kita tidak mau tahu. Apabila setiap orang bisa mengetahui motivasi yang ada, maka orang tersebut akan menjadi kuat dalam menghadapi benturan-benturan dan menjadi teguh dalam kehidupannya, dan mereka akan berangsur-angsur menjadi orang yang baik. Seseorang yang menjadi baik atau tidak, tergantung pada diri sendiri bukan pada diri orang lain. Diri kitalah yang membuat suci atau tidak suci atas diri kita sendiri. Contoh konkretnya ada pada diri Bhante Ananda, Pendamping Buddha atau Buddha Uppatakkha, yang selalu mendampingi Buddha kemana Beliau pergi. Tetapi Bhante Ananda tidak bisa merealisasi tingkat kesucian tertinggi ketika Buddha parinibbana. Mengapa kesucian arahat, beliau realisasi setelah Buddha Parinibbana? Disini Nampak dengan jelas bahwa tingkat kesucian bhante Ananda adalah hasil usaha beliau sendiri, bukan karena Buddha beliau dapat merealisasi Nibbana. Demikian juga atas diri kita, semua tergantung atas diri kita, kitalah penentu diri kita. So, kita harus berani mengubah tindakan-tindakan kita dan berusaha dengan penuh semangat menerapkan SIla (moralitas) sebagai dorongan batin kita.

Tumbuhkan Metta didalam Diri kita

Metta adalah cinta kasih yang universal, cinta yang tidak memandang ras, agama dan suku. Untuk mewujudkan metta (cinta kasih), banyak sekali umat Buddha yang menunjukkan aktivitas mereka demi memancarkan metta dan bahkan ada yang memperingatinya sebagai hari Metta, yaitu pada 1 Januari. Penyaji tidak tahu dari mana sumber itu, apakah dari Sutta atau dari Vinaya. Kayaknya penyaji belum menemukannya. Banyak lagi kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh umat, seperti melepas makluk (Fang Shen), tetapi dalam kenyataannya hanya sebagai simbolisasi saja, karena ketika makluk itu mau dilepas banyak makluk yang mati ketimbang yang dilepas karena ritualnya terlalu lama. Mengapa kita hanya selalu mengutamakan binatang-binatang saja yang kita cintai? Tetapi saudara-saudara kita , manusia, yang butuh kasih sayang dari kita, tidak pernah kita hiraukan sama sekali, tetapi justru saling mengejek, membenci, irihati, mencurigai, dan selalu mencari kesalahan mereka. Mengapa demikian? Kita harus tahu kelemahan kita bahwa ternyata kita hanya mementingkan salah satu pihak saja tetapi pihak-pihak yang lain tidak pernah kita pahami. Tunjukkan kepedulian kita kepada mereka bukan hanya kepada binatang-binatang yang selalu kita identikan untuk mewujudkan cinta kasih kita. Ada juga yang sosialisasi kepada masyarakat, dengan membagi-bagikan barang kepada mereka yang membutuhkan. Apakah perbuatan itu hanya bisa kita lakukan pada saat hari yang disebut Metta itu? Tentu saja tidak bukan? Percuma kalau kita melakukan perbuatan-perbuatan itu hanya setiap tanggal 1 Januari saja tetapi dihari lain kita selalu melanggar sila, terutama sila-sila dalam Pancasila Buddhis. Banyak sekali perbuatan –perbuatan yang baik yang seharusnya kita lakukan setiap saat. Janganlah cinta kasih kita muncul disaat hari yang disebut Metta saja. Memang ada sebuah anggapan bahwa masih untung ada satu hari dalam setahun kita berbuat seperti itu daripada tidak pernah sama sekali. Semua itu memang benar dan tidak dapat dipersalahkan, tetapi apakah kita hanya hidup disaat tanggal yang ditetapkan itu? Tentu saja tidak bukan? Dan kelahiran kita kali ini sudah pasti bukan yang pertama kali, kita terlahir sudah berulang-ulang kali sebelum saat ini. Memang keliatannya mudah untuk mengembangkan cinta kasih, namun dalam prakteknya tidak seperti yang kita bayangkan. Kita membutuhkan semangat dan kesabaran yang tinggi. Seperti kata para guru, bahwa zaman ini adalah zaman dimana kita sulit untuk melakukan kebaikan karena banyak sekali tantangan-tantangannya. Perbuatan-perbuatan yang kita perbuat selalu menimbulkan kesengsaraan makluk dan orang lain, karena rasa egois yang tinggi, kita tidak peduli apakah perbuatan kita itu merugikan atau tidak? Yang penting kita senang, begitu kan?? Kita tidak boleh hanya untuk mementingkan diri sendiri saja, kepedulian social kita perlu kita tingkatkan, dan kepedulian itu masih banyak dibutuhkan oleh saudara-saudara kita bukan hanya identik dengan binatang – binatang saja. Kita harus mensosialisasikan kepada mereka yang membutuhkan. Barangkali dengan cara itulah, kita akan semakin berkembang dalam mewujudkan cinta dan kasih sayang kita kepada semuanya, dan secara otomatis kita telah berkembang didalam Buddha Dhamma. Rasanya tidak salah apabila kita selalu mengikuti Jalan yang Buddha ajarkan. Dengan penuh kesadaran, walaupun banyak cacian, ejekan, sindiran, makian, bahkan fitnahan, kita harus menghadapinya dengan cinta dan kasih sayang kita. Kita harus bisa merenungkan bahwa orang-orang yang selalu memfitnah, mengejek, memberitakan sesuatu yang tidak benar, mencela, memprovokasi orang lain, dan selalu menyalahkan kita, anggap sebagai guru yang sedang mempraktekkan atau sedang memberi contoh, bagaimana caranya melanggar SIla? Semua itu adalah pelajaran untuk kita renungkan, kita harus belajar dari semua itu. Apabila kita sudah memahami sungguh-sungguh bahwa dengan marah berarti kita telah menghambat cara praktek kita, maka ketika kita ingin marah, kita harus merenungkannya terlebih dahulu. Kita harus bisa menaklukkan rasa marah, benci, dengki, dll dengan cinta dan kasih yang lembut yang kita miliki, maka kita akan bisa hidup bersama-sama tanpa ada rasa ego yang muncul. Maka saat inilah kita harus INTROPEKSI DIRI dan selalu memupuk benih kebajikan setiap saatnya. Semoga dengan mempraktekkan Dhamma yang benar kita akan menjadi umat Buddha yang sejalan dengan Ajaran Buddha. ORANG HEBAT ADALAH ORANG BIASA YANG MEMPUNYAI KOMITMEN YANG LUAR BIASA. The more you do the more you will get….semoga semua makluk berbahagia
By Bhikkhu Khemanando

THE POWER OF LOVE


Ada kekuatan di dalam KASIH,
Dan orang yang mengasihi adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengalahkan keinginannya untuk mementingkan diri sendiri

Ada kekuatan di dalam SUKACITA,
Dan orang yang memiliki sukacita adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan

Ada kekuatan di dalam DAMAI SEJAHTERA,
Dan orang yang penuh damai sejahtera adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah tergoyahkan dan tidak mudah diombang-ambingkan

Ada kekuatan di dalam KESABARAN,
Dan orang yang sabar adalah orang yang kuat
Karena ia sanggup menanggung segala sesuatu
Dan ia tidak pernah merasa disakiti

Ada kekuatan di dalam KEMURAHAN,
Dan orang yang murah hati adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya untuk melakukan yang baik bagi sesamanya

Ada kekuatan di dalam KEBAIKAN,
Dan orang yang baik adalah orang yang kuat
Karena ia selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang

Ada kekuatan di dalam KELEMAHLEMBUTAN,
Dan orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat
Karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam

Ada kekuatan di dalam PENGUASAAN DIRI,
Dan orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengendalikan hawa nafsunya

Persahabatan adalah sesuatu yang agung.
Sahabat adalah teman di segala cuaca, asyik diajak hura-hura, toh sabar mendengar keluh kesah.
Tapi itulah makna sebuah persahabatan
Seorang sahabat akan mengisi kekurangan dan bukan keisengan.
Dan dalan kemanisan persahabatn biarlah ada tawa riang kegirangan berbagi duka dan kesenangan.

Selengkapnya...

WALLPAPER BUDDHIS

Bagi rekan-rekan Se Dhamma Yang membutuhkan Wallpaper Buddhis buat di Dekstop komputer maupun di Handphone, silakan kilik di sini...

Cara Mendownload wallpaper: klik wallpaper yang dituju, tunggu sampai gambar terbuka semua, klik kanan pilih save image as
























Selengkapnya...

Tuesday, June 23, 2009


AKU RELA MENJADI TONGKAT IBUKU SEPANJANG HIDUPKU

Hawa udara di Changchun, Tiongkok, sangatlah dingin. Li Yuanyuan memanggul sang ibu yang lumpuh kedua kakinya sambil menggendong putrinya yang berusia dua tahun buru-buru ke rumah sakit karena sang ibu terkena serangan jantung lagi. Orang-orang yang berlalu lalang di jalan memandang mereka bertiga dengan mata terbelalak, semua takjub melihat seorang wanita yang kelihatannya kurus lemah justru memiliki tenaga untuk memanggul satu orang sambil menggendong satu lagi…….


Menurut laporan “City Evening Post”, di pagi buta, 13 Pebruari 2008, Li Yuanyuan telah memakaikan baju bagi anak dan sang ibu yang baru sembuh dari sakitnya. Jam 10 pagi, Yuanyuan berjongkok di depan sang ibu, meletakkan kedua kaki ibu di pinggangnya lalu memanggul sang ibu, kemudian menggendong putrinya yang berdiri di atas tempat tidur.

Kedua tangan Yuanyuan dipakai untuk menyangga sang ibu, sedangkan sang ibu membantu merangkul cucunya mengitari leher Yuanyuan. Dengan cara inilah tiga orang tersebut saling berangkulan dengan susah payah keluar dari rumah sakit. Sang ibu telah lumpuh selama 21 tahun, selama 21 tahun itu pulalah Yuanyuan terbiasa memanggul sang ibu keluar masuk rumah sakit./p>

Ketika Yuanyuan berusia 7 tahun terjadilah sebuah kecelakaan lalu lintas yang benar-benar telah merubah kehidupannya. Karena kecelakaan ini ibunda mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang diperparah dengan menghilangnya sang ayah.

Sejak saat itu, Yuanyuan menjadi tulang punggung rumah tangga. Karena tidak ada penghasilan Yuanyuan menghidupi keluarga dengan menjadi pemulung, uang hasil kerja kerasnya habis terpakai untuk mengurus sang ibu.

Rasa bakti Yuanyuan kepada orang tua sangat menyentuh hati para tetangga, banyak tetangga yang dengan sukarela memberi bantuan kepada sang ibu dan putrinya ini. Karena sepanjang tahun hanya mampu berebahan, otot kaki sang ibu sering kejang, sakitnya tak tertahankan.

Ada seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang dokter tradisional tua, setiap hari membantunya memberikan terapi akupunktur terhadap ibu Yuan-yuan, bahkan mengajarnya menggunakan teknik akupunktur sederhana. Sejak berusia 11 tahun sampai sekarang, Yuanyuan sudah dapat menggunakan teknik akupunktur untuk meringankan rasa sakit ibunya.

Tiga tahun yang lalu, Yuan-yuan menikah, setahun kemudian, Yuanyuan melahirkan seorang putri. Namun di mana pun dan kapan pun, Yuanyuan tidak pernah meninggalkan sang ibu, dia dan suaminya bersama-sama memikul tanggung jawab mengurus sang ibu.

Meskipun rumah tangganya tidak terbilang kaya, mereka sangatlah puas. Sang ibu berkata, terkenang masa 21 tahun ini meskipun penuh penderitaan, namun dia sangat puas, dia merasa diri-nya sama dengan orang tua lain yang juga telah menikmati kehangatan keluarga.

Bagi Yuanyuan, selama 21 tahun ini, dia merasa dirinya sangat bahagia, karena dia adalah seorang anak yang masih memiliki seorang ibu. “Saya rela menjadi tongkat ibu sepanjang hidupku.……”.
Selengkapnya...

Saturday, June 20, 2009

DOWNLOAD LAGU-LAGU BUDHIS MP3

Jika anda penggemar musik, kami sediakan beberapa lagu-lagu Buddhis yang tentunya dapat di download dari situs ini.
Semoga Dapat bermanfaat buat rekan-rekan Se Dhamma sekalian


  1. Dana Paramita mp3
  2. Bodhicitta Vania joviani mp3
  3. Dhammaghosa Sabbe Satta Bhavantu sukhitatta mp3
  4. Dhammaghosa Searching For Buddha mp3
  5. Hadirkan Cinta mp3
  6. Bodhi Sadhu mp3
  7. Selamat Ulang Tahun mp3
  8. Mama Hao mp3
  9. Sujud KU mp3
  10. buddhissong mp3
  11. Young heart mp3
  12. Candani Jalan Nirwana mp3
  13. Candani Bersama Mu mp3
  14. chinnes mp3
  15. Berilah Mereka mp3
  16. Anatha mp3
  17. Catur Ariya Sacani mp3
  18. Catur Paramita mp3
  19. Doa Untukmu mp3
  20. Dhamma Cakkapavatana Sutta mp3
  21. Indahnya Dharma mp3
  22. Indahnya Dharma mp3
  23. Keagungan Mu mp3
  24. Kelahiran Sang Buddha mp3
  25. Lord Buddha mp3
  26. Padamu Buddha Dhamma Sangha mp3
  27. Malam Suci Waisak mp3
  28. Palingkanlah Hatimu mp3
  29. Parinibanna mp3



Selengkapnya...

JADWAL KEBAKTIAN

Malam Cap Go & Ce It : KebaktianUmum
Jam 19.00 s/d Selesai

Malam Uposata penangalan Imlek Tgl 1,8,15 dan 22
Jam 19.00 s/d Selesai ( Kebaktian Umum )

Malam Minggu : Kebaktian Remaja
Jam 19.00 s/d Selesai

Malam Senin : Kebaktian Pemuda Pemudi
Jam 19.00 s/d Selesai

Minggu Pagi : Sekolah Minggu Buddhis
Jam 09.00 s/d Selesai

Vihara Tri Dharma Cariya

Vihara Tri Dharma Cariya
klik foto ini

TOLONG ISI DONG SARAN & KRITIK DI SINI


ShoutMix chat widget

LINK SAHABAT

Mau lihat Foto Perayaan waisak

Mau lihat Foto Perayaan waisak
klik di foto ini

Followers

PENGUNJUNG

 

Copyright © 2009 by WELCOME TO